beberapa hari yang lalu, di otak gue bermunculan berbagai ide cerita. lantas, karena gue sedang ujian, gue menunda untuk menuangkan ide itu dalam tulisan. dan sekarang, ide itu telah menguap. gue nggak inget lagi ide yang sempat bermunculan dalam otak gue. mungkin, ide itu telah terdesak keluar akibat desakan teori marketing dan kasus-kasus teori organisasi yang memaksa untuk diingat.
*
anyhow, gue punya sebuah pengalaman tentang blackberry
nyokap gue baru saja menyelesaikan proyek ekspor abon ke australia. canggih kan? abon diekspor. lama-lama mungkin ikan asin dan makanan jeroan yang digemari banget juga diekspor kali ya?
oke, jadi ceritanya gini. klien nyokap gue sebelumnya terancam rugi milyaran rupiah karena abon yang dia masukin ke aussie itu belum punya ijin ekspor dari departemen pertanian. sehingga, ancaman deportasi produk pun muncul. lalu, nyokap gue membantu si tukang abon tersebut untuk ngurusin perihal ijin ekspor tersebut. sekarang, abon tersebut sudah aman dan bisa dipasarkan melalui jaringan retailer (carrefour) di aussie. sebagai tanda terima kasih, nyokap gue dikasih blackberry onyx sama si tukang abon itu.
wuah. keluarga gue, yang belum pernah pake blackberry pun jadi norak. kita ngeliatin blackberry itu. megang-megang. nyobain internetnya, dsb.
terus, kita semua jadi berujung pada sebuah pertanyaan: “terus yang pake bebe ini siapa?”
“eti aja!”
“engga, buat adek, adek kan belom punya hape.”
“kamu kan masih SD, buat eyi aja.”
“engga, buat gue. gue ketua kelas. jadi kalo ada jarkom bisa pake BBM. praktis.”
lalu, nyokap gue yang dari tadi diam pun bersuara, “udah buat rame-rame.”
“engga mau! buat aku!” sahut gue, lalu gue pun membawa kabur blackberry onyx tersebut ke atas, ke kamar gue.
yak. blackberry sudah di tangan. sekarang tinggal diaktifin. lalu gue bisa jadi mahasiswa paling gaul. haha. kemudian, sebuah pertanyaan muncul di kepala gue, gue kuat nggak ya, buat bayar biaya langganan balckberry?
FYI, duit jajan gue sebulan kira-kira 400 ribu hingga 500 ribu. dan biaya langganan blackberry sekitar 25 ribu per minggu. ada juga paket lain yang lebih murah (50 ribu per bulan), tetapi, itu baru biaya langganan. belum pulsa biasa yang buat nelepon dan sms. setelah gue hitung-hitung, paling nggak, gue perlu ngeluarin sekitar 100 ribu per bulan buat pulsa. ini artinya, gue perlu mengeluarkan dua kali lipat dari alokasi pulsa bulanan gue.
hem, sudah kere, bisa-bisa makin kere lagi gue.
akhirnya, gue memutuskan untuk tidak menggunakan blackberry. pertama, karena gue nggak mau dan nggak mampu bayar pulsa untuk bebe. kedua, temen-temen deket gue sebagian besar masih menggunakan handphone konvensional. ketiga, si ayam juga engga pake bebe. keempat, gue bukan internet freak yang kalo nggak buka facebook atau update twitter berasa berdosa setengah mati. lagipula, untuk kebutuhan internet, sampai saat ini gue menggunakan netbook dan wifi. gue juga belum menemui masalah dengan itu.
so… i don’t need balckberry yet.

